Kebersamaan dan Akhir Pertemuan Seorang Demonstran dengan Bapak Habib Alwie Achmad.
Oleh H.Syarnubi Syarief SH. Mantan Camat Kaur Selatan
Plg 1 Maret 2022
Kata orang bijak setiap pertemuan akan diakhiri dengan perpisahan .terlepas suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju akan kenyataan merupakan suatu keniscayaan, harus kita terima dengan tegar dan tawakal.
Ini awal pertemuanku dengan tokoh idolaku Habib/Sayyid Alwie Achmad pada sekitar tahun 1966. Orang Bintuhan memanggilnya Habib Alwie atau dipersingkat Habib Luwi. Nama Habib selalu disebut meski tanpa Alwi orang sudah tahu.
Disamping itu untuk membedakan dengan seorang tokoh di Bintuhan yang bernama Haji Alwi atau dipersingkat Haji Luwi. Saat itu saya baru masuk sekolah di PGA Nahdlatul Ulama Bintuhan. Kebiasaan para siswa PGA Nadatul ulama juga sekolah-sekolah lainnya di Bintuhan seperti SMP, setiap musim panen padi di sawah kebiasaannya ada setulungan ngetam (gotong royong panen padi). Ada rombongan bujang gadis ada pula rombongan yang tua (bapak-bapak dan emak –emak). Untuk murid PGANU juga melakukan hal yang sama, hanya saja kalau kami di PGANU nulung ngetam tapi di upah dengan padi jumlah upah kepada kami sukarela dari pemilik sawah.
Upah yang didapat tersebut kemudian kami gunakan untuk membeli drumband. Kegiatan nulung ngetam ini kami lakukan saat libur sekolah atau setelah pulang sekolah.
Pada suatu hari pada tahun9 1966 itu para siswa PGANU diberi tahu oleh pak Burhanudin Achmad (kepala sekolah), hari minggu ini kita nanti membantu pak Habib Alwie ngetam (panen padi) kalau bisa datang semua. Karena sudah ditunggu jangan menghambat beliau sebagai pengurus PGANU. Kami seluruh siswa hampir datang semua karena hari libur jadi kami tidak sekolah. Sawah pak uncu Habib Alwie ini Kebuain Jembatan dua Kabupaten Kaur.
Saat menjelang tengah hari kami dianjurkan untuk istirahat makan siang pada saat makan saya mengambil posisi di depan pak uncu Habib sebab saya telah bercita-cita untuk melihat pak uncu Habib dari dekat. Karena terus terang wibawa beliau memang luar biasa. Orangnya tinggi besar, rambutnya hitam ikal bergelombang, wajah bersih hidung mancung dengan pandangan tajam, caranya bicara tertata rapi walaupun banyak humor tapi terukur dan pas mengenai sasaran.
Saat waktunya makan dimulai, pak uncu Habib Alwie mulai makan, tapi aku sedang melihat-lihat keluar, menikmati pemandangan di depan yaitu sawah pak uncu Habib. Lantas beliau melihat ke saya, beliau menegur saya:
“kenapa kamu belum makan? “.
Aku terdiam dan langsung makan lantas beliau memberikan sepotong daging kepada saya, sayapun menerimanya. Saya teringat betul, beliau bercerita kalau sayur ini namanya gulai “ke’ebau” tapi kata orang Manna namanya gulai “kebau”. Yang kenal menurut bahasa Kaur bukan kebau tapi ke’ebau, tapi kalau kita nyebut kebau berarti kita mengikuti bahasa orang Manna.
Pendek cerita sawah pak uncu Habib selesai dipanen pada hari itu juga, beliau nampak sangat bergembira pada hari itu. Karena selama ini takut dan was-was sebab siapa yang terlambat panen (ngetam) akan terancam dimakan sapi atau kerbau, karena pagar sawah sudah dibuka untuk mengangkut padi ke dusun. Menurut perkiraan saya yang datang nulung ngetam ini lebih 200 orang baik laki-laki maupun perempuan.
Menjelang sore kami di sawah berhenti kerja untuk bersiap pulang. Pada saat istirahat kami disuguhi makanan Kekuk (bubur ketan dengan gulanya gula aren (gula habang). Kami kembali duduk ngelepar (lesehan) di tanah, merasa takut tidak enak dengan mereka, Syarnubi Syarif mengambil tempat duduk di sebelah kiri pak uncu Habib sambil makan Kekuk. Pak uncu nanya di sebelah kanannya:
“kamu kelas berapa?” kelas satu pak, jawab Upik Lanang
“siapa temanmu ?” kujawab Safli tapi panggilannya Upik Lanang.
Lantas selanjutnya dia bertanya kepada saya yang duduk di sebelah kirinya
“ kalau kamu namanya siapa”
“Syarnubi” jawabku
“ anak siapa ?”
“ saya anak Syarif “
“kamu dari mana?”
“saya dari Nasal “
“apa pekerjaan bapakmu ?”
“bapak saya petani sawah, kopi dan lada”
“hati-hati sekolah dan rajin belajar ya, sudah bisa mengaji belum?”
“ bisa pak uncu tapi baru sedikit pak uncu”
Kemudian kami semua pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah sore .
Pertemuan selanjutnya…
Anak dari pak uncu Habib ini ada yang sebaya dengan saya yaitu Alireda. Seharusnya kami satu kelas tetapi karena saya pernah tidak naik kelas saat kelas 3 SD (tidak naik kelas pada tahun 1963), maka tamat SD pada tahun 1965. Setelah itu melanjutkan di pesantren dan pada tahun 1966 baru masuk PGANU, antara tahun 1963 dan tahun 1968. Saat itulah aku bergaul dengan Alireda, kami berteman sangat akrab karena beliau sering memberiku permen dalam jumlah banyak. Kalau orang lain biasa memberi teman paling sebatas satu atau dua biji saja, kalau Alireda memberi saya sampai dua genggaman besar bisa dibayangkan berapa banyak isinya.
Saat berteman dengan Alireda ini aku hampir setiap hari ke rumahnya dan selalu bertemu dengan pak uncu Habib sebab aku menyewa rumah di depan rumah pak uncu Habib Alwie di jl. kampung masjid Bintuhan kecamatan Kaur Selatan.
Pertemuan yang berkesan berikutnya melalui acara pengokohan Partai Nahdalul Ulama 1968 selama 9 hari. Saya salah seorang calon kader Partai Nahdalul Ulama yang jumlahnya lebih dari 150 orang. Pak uncu Habib (Alwie Achmad) sedang aktif mengikuti DPR MPRS.
Saat itu beliau memberikan materi pokok tentang strategi Partai Nadalul Ulama dalam menghadapi perancangan pemilu 3 juli 1971. Materi sangat padat dan terinci kata demi kata dari mulut beliau memberi masukan yang sangat jelas dan sangat terinci. Disitulah saya melihat semua, siapa sebenarnya Alwie Achmad anggota DPR MPRS tersebut. Setelah ikut dengan materi Partai dan pemaparan pada presentasi Pendidikan kader Partai NU oleh beliau kembali disampaikan dengan secara seksama oleh Habib. Maaf dikata ada jarum jatuh ke lantai akan kedengaran saking suasana begitu hikmat. Itu karena dengan gaya bicaranya ber api-api saat menantang musuh, dan suara mendalu-dalu/ lemah lembut saat mengasuh dan mendidik kami para peserta. Kawan-kawanku berkomentar dengan bangga: pantas sekali… cocok sekali beliau menjadi anggota DPR MPR, mulai dari tegak awalnya bersikap, cerdas dan perlente juga. Memang sangat cocok diandalkan karena beliau Pintar dan juga Berani
Dalam menyampaikan teori politik beliau melemparkan pertanyaan kepada kami tentang teori Trias Politica
Apa itu triaspolitica?
Apa saja pembagian kekuasaan ?
Siapa pelopor teori ini?
Pertanyaan yang strategis ini selalu terngiang ditelingaku hingga saat ini. Tidak ada yang berani menjawab termasuk saya terdiam karena tidak tahu. Lantas salah seorang peserta murid PGANU kelas 3 namanya Basarudin orang Bintuhan memanggilnya Basar Bisan. Basar ini anak seorang Cina namanya Bhin Shan tapi sudah masuk Islam menetap di Gedung Sake Bintuhan.dengan tangkas dan lincah Basarudin menjawab pertanyaan pak Alwie Achmad (Habib) .
Jawaban no.1
Triaspolitica adalah pembagian kekuasaan
Jawaban no.2
Pembagian kekuasaan ialah eksekutif, legislative, yudikatif
Jawaban no.3
MONTESQUE sarjana Prancis
Tahun 1970 saya tamat sekolah di PGANU 4 tahun dan seterusnya melanjutkan ke sebuah sekolah SMA Kaur. SMA Kaur ini berbentuk swasta yang pada masa pendidikannya diberi materi oleh Habib Alwie, bahrul mukith, haji ikhsan , Hj. nurdin dan semua para tokoh masyarakat Bintuhan saat itu .
Di kota Bintuhan sudah ada SMPN dan di Padang Guci sudah ada SMP swasta. Sudah banyak murid SMP ini yang tamat tapi tidak dapat mulai ikut ke sekolah yang lebih tinggi seperti SMA, SMEA, STM. Anak tamatan SMP di Bintuhan dan Padang Guci terpaksa berhenti sekolah. Jumlahnya semakin banyak dan memprihatinkan.
Disini para tokoh pendidikan di ex kewedanaan Kaur pada saat itu berinisiatif mendirikan sebuah lembaga pendidikan ternama SMA Kaur pada tahun 1968.
Pada tahun itu juga kebetulan seorang pemuda Kaur sedang pulang kampung dari Yogyakarta yaitu bapak Drs. Syofyan Sori. Pada tahun 1968 yang mendapat gelar sarjana di Bintuhan masih tergolong langka. Oleh pak uncu Habib Alwie dibujuklah pak Sopian suri ini agar tidak kembali ke Jawa untuk merantau, makanya tetap tinggal di Bintuhan untuk mendidik anak –anak tamat SMP sambil membantu anak –anak yang putus sekolah. Habib Alwie menceritakan latar belakang pendidikan bapak Drs. Sopian sori tamat Ikip Yogyakarta memang sarjana yang menggeluti tentang pendidikan. Kata kujawab, gayung kusambut, permintaan tokoh masyarakat Kaur dikabulkan oleh bapak drs. Sopian sori .
Pada tahun 1968 SMA Kaur mulai dikembangkan dan mulai menerima murid mulai dari tamatan SMP dan PGA 4 tahun. Bapak Sopian sori ditunjuk sebagai kepala sekolah SMA Kaur. Pada tahun 1970 saya menamatkan sekolah di sekolah PGA 4tahun selanjutnya masuk pesantren selama 1 tahun dan selanjutnya meneruskan pendidikan di SMA Kaur Bintuhan.
Semasa mengikuti pendidikan di SMA, saya mengikuti berbagai aktivitas organisasi. Pada tahun 1970 saya dilantik oleh Suparwan Zahari menjadi ketua UMKM KAPI RAYON Kaur Selatan (kesatuan aksi pelajar Indonesia rayon Kaur Selatan). Selanjutnya pada tahun 1970 saya diajak oleh mahasiswa Kaur Jakarta untuk mengadakan rapat Akbar pemuda Kaur. Tepatnya di rumah bapak H. DAWAM di kepala pasar Bintuhan. Pertemuan tersebut dihadiri juga oleh tokoh masyarakat Kaur bapak Habib Alwie.
Di antaranya yang saya ingat kepemudaan dari pihak mahasiswa Kaur dari Jakarta yaitu Suparwan zahari, Yan dawam, Daili Said. Mereka inilah yang memberikan pemaparan tentang Bintuhan/ Ex kewedanaan Kaur perlu didirikian sebuah organisasi kepemudaan untuk mengembangkan potensi anak muda di Kaur saat itu. Yang hadir dari berbagai kecamatan dalam EX kewedanaan Kaur yakni para siswa PGA MUHAMADIYAH , PGANU , SISWA SMA. Dalam acara itu setelah mendengar saran –saran atau pendapat para peserta yang hadir disepakatilah berdiri sebuah organisasi kepemudaan bernama GEMA KAUR (generasi muda Kaur) dan pada hari itu juga disepakati secara aklamasi SYARNUBI SYARIF sebagai ketua umum dan TUBANG SARDAWA sebagai sekretaris umum.
Adapun tugas sehari- hari GEMA KAUR membantu PMRK yaitu suatu organisasi yang di bentuk yang disponsori Habib Alwie dan Wedawa Thalib. Adapun organisasi PMRK ini sebagai wadah untuk menampung dan menyalurkan aspirasi tentang ide dan cara menjadikan EX kewedanaan Kaur menjadi Kabupaten Kaur. Dimana saat itu keinginan jadi Kabupaten Kaur telah berhembus dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat di Kaur . Selanjutnya melalui GEMA KAUR ini telah memimpin demonstrasi di Kaur Bintuhan tahun 1972 sebagai jawaban rakyat Kaur atas ucapan-ucapan bupati Bengkulu Selatan tentang ketidaksetujuan Kaur dijadikan Kabupaten Kaur ingin memisahkan diri dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Demonstrasi yang saya pimpin memanfaatkan saat kami jumpa Bupati ke Bintuhan tanggal 13 agustus 1972.
Adapun alasan demonstrasi turun ke jalan tersebut sebagai berikut.
Nama daerah kebanggaan rakyat Kaur yaitu kata – kata Kaur dihapus dalam segala bentuk kegiatan pemerintahan antara lain :
Kecamatan Kaur Selatan diganti dengan kecamatan Bintuhan
Kecamatan Kaur tenah diganti dengan kecamatan Muara Sahung
Kecamatan Kaur utara diganti dengan nama kecamatan Padang Guci
Pemungutan tiap ada pembuatan kartu penduduk yang luar biasa mahalnya yang tidak ada dasar hukum pengurusnya yang sudah berlangsung bertahun – tahun.
Keikhlasan uang hasil pungutan jasa gudang di pelabuhan Bintuhan telah berlalu bertahun –tahun yang tidak ada dasar hukumnya .
Demonstrasi diikuti oleh hampir ribuan masyarakat dari berbagai desa dan kecamatan dalam EX kewedanaan Kaur dengan melalui undangan berantai dan informasi melalui masjid dan jasa kepala desa. Demonstrasi berjalan tertib, sebelum jam 2.30 rombongan bupati dari Manna sampai di Bintuhan. Semua peserta saya arahkan untuk berbaris di pinggir jalan di depan kantor camat Kaur Selatan. Mobil rombongan bupati sudah dihadang oleh peserta demo dan terhenti cukup lama. Disitulah rakyat Kaur melampiaskan kemarahannya dan keinginannya dengan ucapan
“DATI 2 KAUR!!....., DATI 2 KAUR!!!..... APA ALASAN BUPATI MENGHILANGKAN NAMA KAUR ???......“ dengan mengacung jari dua sebagai simbol Tingkat II Kabupaten Kaur .
Pokoknya banyak lagi ucapan dan teriakan para pendemo saat itu. Bupati tidak turun dari mobil. Tetapi dia kaget melihat kondisi yang tidak disangka sangka itu. Tidak ada ucapan dan jawaban sepatah kata pun dari mulut bupati saat itu mengakibatkan kesabaran para pendemo memuncak, ada yang mencaci dan ada yang melempari mobil bupati dengan karang dan sambil menunjuk saja dua jari hampir mengenai mobil bupati. Pokoknya demo tidak berjalan sesuai scenario demo, sudah beringas dan hampir menjurus anarkis. Melihat kondisi sudah kacau, saya dan seluruh pengurus GEMA KAUR dengan melalui pengeras suara mengatakan kepada para pendemo untuk distop dan dihentikan. Para pendemo patuh dan tertib membubarkan diri, mobil bupati melanjutkan perjalanan saya tidak tahu lagi kemana bupati menginap atau tidak di Bintuhan atau langsung pulang ke Manna saya tidak tahu. Karena saya sudah bersembunyi dan saya menyadari bahwa saya akan cepat ditangkap oleh polisi atau tentara.
Ternyata pirasatku benar-benar tidak meleset, tepat hari rabu tanggal 14 agustus 1972 jam 07.15, sementara saya mau pergi ke sekolah. Saya betul-betul telah dihadang oleh polisi di depan masjid Jamik Bintuhan. Saya dipukuli dan ditendang oleh polisi saya sempat melawan karena saya sebelum merantau dibekali oleh orang tua kekuatan tenaga dalam dan silat. Beberapa pukulan polisi berhasil saya tangkis dan pukulan saya banyak mengenai sasaran lawan. Yang akhirnya saya dikeroyok oleh 3 polisi, saya kewalahan karena lawan tidak seimbang. Lalu saya ditangkap dan dijebloskan dalam tahanan polisi selama 28 hari dan sebelum saya ditangkap polisi, pada tanggal 13 Agustus 1972 jam 04.00 sore saya sudah diawasi dan diikuti oleh pasirah Ilyas. Pak ilyas ini adalah Koramil Bintuhan menjadi Pesirah di Bintuhan. Di dalam tahanan saya ditanyai polisi siapa sebelumnya di belakang Syarnubisyarib
ini, pertanyaan ini saya jawab :
Siapa yang sudah demo: yang sudah demo rakyat Kaur
Siapa pemimpin demo: yang pimpin saya sebagai ketua UMKM GEMA KAUR
Apa itu GEMA KAUR: GEMA KAUR itu generasi muda Kaur, kamilah yang mengajak demo dan mengundang masyarakat untuk demo
Demo yang saudara pimpin ini ada yang menunggangi ngaku kamu siapa orangnya: “tidak ada yang menunggangi pak yang menunggangi rakyat Kaur”
Ngaku kamu, ngaku kamu, ngaku kamu, saya tembak kamu!!!
Saya memperhatikan dia membawa pistol dan sudah diletakkan di telinga saya. Melihat gelagat polisi ini sudah agak lain dan pistol semakin ditekan di telinga saya dan terasa sakit dan pedih akhirnya saya bertanya pada polisi Bintuhan (Ramlan K Disja) saya jawab dengan keras
Jawab siapa yang suruh demo, ngaku kamu! “pak syopian sori pak”. Dari tadi saya tanya kamu berbelit belit ya ,aku diam saja
Selanjutnya saya dikeluarkan dalam tempat tahanan dan duduk diluar tapi tetap di dalam kantor polisi
Sebenarnya bapak Sofyan sori tidak pernah menyuruh demo. Demo ini inisiatif GEMA KAUR, tapi karena tekanan dari polisi akhirnya saya terpaksa mengatakan pak syofyan sori sebagai dalang. Selang beberapa hari aku ditahan, datang dari dang Arsyi Dawan istri bapak syofyan sori: “ ai ai ai kenapa kamu mengatakan pak Sofyan sori dalang demo deng kata dang Arsi”. “Saya tidak tau dang saya tidak bisa ngomong apa-apa saya terpaksa berbohong waktu itu sebab pistol pak RAMLAN K DISJA telah berada di telingga saya,”. Jangan diulangi lagi deng, kamu sudah dibuat polisi seperti ini” . Dang Arsi dawan diam seperti menahan tangis, mendengar penjelasanku lantas dia izin pulang.
Beberapa hari berikutnya pak Sofyan sori datang ke kantor polisi. Aku salami beliau dan beliau menyambut tanganku dengan kuat sekali sambil menepuk-nepuk bahuku sambil tertawa.
Tidak ada satu patahpun kalimat yang keluar dari mulut nya , karena sudah disuruh masuk kamar untuk di periksa polisi. Pada saat polisi mengajukan pertanyaan, mengapa saudara menyuruh masyarakat demo. Pak sofyan sori melawan dan tidak terima dituduh dalang demo: “Yang jadi dalang demo polisi itulah”, Yang menggerakkan anak buah bapak melalui pengeras suara. Lalu bapak tanya pada masyarakat yang hadir “siapa itu polisi yang ikut mengamankan demo tersebut ya pak” pak Latib BA, pak…. dan banyak lagi polisi yang lain. Mereka tidak menghalangi dan hanya menonton kami demo. Inilah jawaban pak sofyan sori. Pak RAMLAN K DISJA terdiam dan pak Pian sori tidak jadi diperiksa. Sampai hari ini pak sofyan sori kini masih hidup dan sehat walafiat.
Kalau ingin bertanya tentang awal perjuangan Kabupaten Kaur tidak lengkap dan salah sekali kalau tidak bertanya dengan bapak Sofyan sori, H.Alwie, Syukur Alwie, karena mereka inilah tokoh sentral rakyat Kaur pada saat memperjuangkan Kabupaten. Saya dalam tulisan ini tidak membuka perdebatan tentang tokoh-tokoh yang lain yang akhir ini bermunculan. Tidak haram hukumnya untuk disebut tapi tentang akurasi atau akuratnya data yang mereka ungkap tentang andilnya terhadap perjuangan Kabupaten Kaur tunggu dulu. Perlu ditelaah dengan cermat, karena fakta sejarah perjuangan panjang yang sudah memakan korban.
Pak Alwie itu terkagum-kagum dengan seorang peserta Basarudin itu
Beliau sempat berbagi pertanyaan tersebut
Ada yang bisa menjawab sebuah pertanyaanya kami semua terdiam dan malu diri karena tidak bisa
Setelah saya kuliah di fakultas hukum pelajaran Trias Politica ini baru diberikan pada tingkat VI fakultas hukum. Jadi saya berkesempatan meminta bantuan pak uncu Habib Alwie ini karena ia sudah setingkat sarjana. Wah hebat sekali pak uncu Habib Alwie ini”
Saudara Basarudin sangat dibanggakan oleh pak uncu Habib Alwie, pada saat saya ke Bengkulu kerumah pak uncu Habib, rupanya saudara Basar ini sudah lebih dahulu di ajak pak uncu Habib ke Bengkulu untuk mendampingi beliau dan tinggal bersamanya di Partai NU Bengkulu.
Pertemuan kami dengan pak uncu Habib terus berlanjut setelah selesai mengikuti kader Partai Nahlatul Ulama tahun 1968 dan puncak keakrabab ini setelah beliau menggagas perubahan tingkat II Kabupaten Kaur memisahkan diri dari Bengkulu Selatan. Dalam setiap pertemuan partai dan kegiatan perjuangan pemerintah Kabupaten Kaur saya selalu diajak dan mendampingi beliau semasa beliau di Bintuhan dan Bengkulu.
Kebijakan Bupati Syah Djohan merubah nama kecamatan :
Kecamatan Kaur utara dirubah menjadi kecamatan Padang Guci
Kecamatan Kaur tengah dirubah menjadi kecamatan Muara Sahung
Kecamatan Kaur Selatan dirubah menjadi kecamatan Bintuhan
Tidak ada alasan yang mendasar Ex kewedanaan Kaur jadi dari II Kaur (Kabupaten Kaur
Kebijakan bupati Syah djohan sangat melukai perasaan orang lain terutama menghilangkan nama KAUR dalam beberapa tingkat baik di tingkat desa, kecamatan, Kabupaten sampai Provinsi Bengkulu. Reaksi keras bapak Alwie Achmad sebagai anggota DPR MPR baik melalui rapat di DPRGR maupun di media masa. Pernyataan keras keluar dari mulut beliau dalam surat kabar ABADI 1970 (Surat Kabar Nasional). Pak Alwie Achmad memberikan sinyal kepada GEMA KAUR yang saat itu ketuanya Syarnubi Syarif. Bahwa kita harus bersikap dan jangan tinggal diam atas tindakan kesewenang-wenangan bupati Syah Djohan tersebut.
Kemudian pak Alwie Achmad secara khusus memanggil ketua GEMA KAUR atau generasi muda Kaur bersama sekretaris dirumahnya pada 18 maret 1970 saya bersama sekretaris umum generasi muda Kaur ada Timbang Serdana (alm) mendapat gambaran tentang kondisi perjuangan PMRK (perjuangan masyarakat atau rakyat Kaur). Menurut beliau, menegaskan bahwa PMRK suatu organisasi wadah perjuangan untuk menjadi Kabupaten sendiri dan memisahkan diri dari Kabupaten Bengkulu Selatan saat itu. Karena kondisi saat itu baik di bidang pembangunan jalan maupun bangunan infrastuktur lain memang sangat tertinggal jika dibandingkan dengan daerah lain. Yang perlu kalian ingat saudara Syah Djohan itu sangat menentang keras atas usaha-usaha perjuangan rakyat Kaur menentukan prinsipnya sendiri untuk menjadi Kabupaten Kaur. Selanjutnya pak Alwie Achmad menjelaskan dengan dirubahnya nama kecamatan data kewedanaan Kaur yakni :
Kecamatan Kaur utara dirubah dengan kecamatan Padang Guci
Kecamatan Kaur tengah menjadi kecamatan Muara Sahung
Kecamatan Kaur Selatan menjadi kecamatan Bintuhan
Beliau melanjutkan pengarahan kepada kami: Kalau nama Kaur sudah dihapus, Syah Djohan beranggapan tidak ada lagi lambang perjuangan karena EX kewedanaan Kaur sudah tercabik dan bercerai berai. Tidak ada alat atau nama pemersatu, padahal nama Kaur adalah nama warisan dari nenek moyang kita mulai zaman jajahan. Demi rakyat Kaur tindakan KEJI ini harus kita lawan, baik secara politik maupun secara tekanan masa.
Ketua PMRK saudara Sofyan sori tidak dilibatkan dalam pembicaraan ini, karena pertimbangan beliau sebagai kepala SMA KAUR (SMA SWASTA) mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap anak didiknya yang jumlahnya hampir 100 orang dan kelas 1 sampai kelas 3.
Oleh karena itu kegiatan untuk menjawab tantangan bupati ini harus dilakukan oleh generasi muda Kaur. Selain itu dalam kegiatannya sebagai anggota DPRGR pak Alwie Achmad telah berbicara mengangkat tentang kesewenangan-wenangan ekonomi bupati tersebut di dalam Sidang DPRGR, baik melalui media cetak dan media massa. Tulisan pak Alwie ini pernah saya baca pada surat kabar nasional harian Abadi. Yang dibuat dalam harian surat kabar abadi tersebut yakni :
Pembuatan kartu penduduk
Pemaksaan oknum camat Kaur adalah untuk seluruh masyarakat membuat kartu penduduk dengan harus membayar, harganya tidak wajar atau sangat mahal
Pemungutan jasa gudang
Setiap pasar perdagangan atau panen hasil hutan atau hasil perkebunan yang akan diangkut ke Jakarta melalui pelabuhan Bintuhan diharuskan membayar jasa gudang. Walaupun tiap barang yang akan diangkut ke kapal laut menuju Jakarta itu tidak masuk gudang penitipan, karena bagian gudang sangat kecil sedangkan jumlah kopi, cengkeh, lada, yang akan dibawa ke Jakarta tersebut cukup banyak dan mengunung berjejer diluar gudang tersebut semua pemilik barang diharuskan dikenakan jasa gudang yang jumlahnya cukup tinggi. Dan yang memisahkan baik pedagang hasil bumi tersebut, uang yang diberikan untuk apa? disetor kemana? Semua tidak jelas, kejadian ini sudah bertahun-tahun dan kita harus pertanyakan kemana uang pungutan hasil gudang ini. Masyarakat telah mencurigai praktik pungutan ini oleh karena itu kita harus mengambil sikap supaya kita jangan dibodohi dan ditipu oleh oknum camat Kaur Selatan pada saat ini.
Berkaitan dengan pungutan-pungutan liar oknum camat Kaur Selatan ini dicatat dalam surat kabar oleh pak Alwie Achmad. Pak Alwie Achmad mendapat surat sanggahan dan protes keras Bupati Bengkulu Selatan (Syah Djohan). Dengan memaki dan menghina pak Alwie Achmad melalui surat kabar, surat itu keluar tahun 1970. Pak Alwie membacakan isi surat itu dihadapan saya di kantor Partai NU di lantai atas jl. Pendakian No. 33 Bengkulu pada saat saya menemani beliau di Bengkulu tahun 1970, yang isinya: “saya dapat membayangkan ketika saudara di jabatan terhormat itu dan melalui jabatan terhormat itu saudara berceloteh di media masa di sidang DPRGR yang terhormat itu,………… dan seterusnya saya lupa. Berkenaan statemen Pak Alwie tersebut, ketegangan antara pak Alwie dengan oknum bupati Syah Djohan tersebut semakin memuncak. Ketegangan ini merembet pada PMRK dan GEMA KAUR.
Ketidak harmonisan antara orang Kaur dengan oknum bupati dapat kami buktikan pada saat kami Suparwan Zahari (alm) dan Syarnubisyarib kapasitas ketua umum generasi muda Kaur pada saat itu mau bertemu dengan bupati untuk menjelaskan tentang perjuangan rakyat Kaur untuk Kabupaten Kaur dan meminta penjelasan tentang kemana dia hasil penjualan kartu penduduk dan pungutan hasil gudang di Bintuhan yang sudah berjalan bertahun-tahun, untuk apa uang itu? Kemana uang itu dan apa dasar hukum pungutanya? Tapi diluar dugaan kami, ternyata kami ditolak mentah-mentah untuk bertemu, dan kami tidak patah arang sambil menunggu kepastian untuk diterima bupati. Kami mengunakan waktu itu untuk menemui ketua ketua DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan bapak Kapten Yusirwan, kami diterima di rumah beliau.
Dan setelah mendengar laporan dari kami beliau sangat apresiasi dan akan membahas yang kami lakukan pada instansi yang terkait dalam Kabupaten Bengkulu Selatan. Sebagai buktinya ketua DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan mendukung dan menyetujui perjuangan rakyat Kaur untuk menjadi Kabupaten Kaur Selatan. Tertulisnya dukungan ini berkat perjuangan pak Alwie Achmad melalui anggota DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan, khususnya aggota DPRD yang berasal dari EX kewedanaan Kaur. Antara lain bapak H.A RAWI SALEH, KH BAHRUL MUKITH, bapak AMRAH, dan yang lain saya lupa. Hasil keputusan DPRD Bengkulu Selatan ini dibawa langsung oleh H ARAWI SALEH dibacakan dan dibahas dalam rapat pleno lengkap kepengurusan perjuangan masyarakat Kaur dirumah H Nurdin Razak tahun 1971. Syarnubipengurus generasi muda Kaur ikut di undang dan hadir dalam pertemuan itu, dipimpin oleh ketua PMRK bapak drs. Sofyan sori, seterusnya tanggapan dari peserta rapat :
Yang memberikan tanggapan pertama
Bapak Sayid Alwie Achmad anggota DPRGR isinya antara lain:
Perjuangan masih cukup panjang memerlukan waktu pemikiran dan pengorbanan kita semua baik warga Kaur yang ada di Kaur, maupun warga kita yang ada di perantauan supaya tetap kita konsultasi dan berikan informasi tentang apa-apa yang telah kita lakukan
Berkenaan dengan SK DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan tentang dukungan dan persetujuan terhadap perjuangan kita ini disebarluaskan kepada pesirah-pesirah atau kepala marga, para Depati atau kepala desa dan organisasi warga Kaur yang ada
Di perantauan seperti PWK lampung, PWK Jakarta, PWK yogykarta, dan HAK (HIMPUNAN ANAK KAUR) di Palembang, khusus surat untuk ke HAK Palembang biarlah saya sendiri yang bawa, karena saya (Alwie Achmad) akan ke Palembang mengunjungi anak –anak.
Tanggapan yang kedua oleh bapak Tajab marzuki yang isinya:
PMRK harus membuat jadwal rapat yang jelas , sehingga kerja kita ini dapat diketahui sudah sampai di mana perlu ada evaluasi dimana hambatan dan tantangan nya, semakin sering berkumpul kita mudah meng informasikan tenang perkembangan jalannya organisasi
Jadwal kita ini jangan selalu menunggu nasip harus kejar bola
Susun generasi muda khusus GEMA KAUR sebagai sayap PMRK terus kompak dan inisiatif , karena GEMA KAUR sebagai sayap PMRK maksudnya bersama sayapnya akan mengikuti KA PMRK terbang kemnapun untuk mencapai tujuan rakyat Kaur yang kita cintai ini
Dengan pekik MERDEKA MERDEKA MEDEKA tangan terkepal ke atas pak tajab marzuki menutup tanggapannya
Karena tidak ada tanggapan dari peserta yang lain pak Alwie Achmad ( Habib Alwie) kembali minta waktu, karena ada yang tertinggal beliau sampaikan terlebih dahulu. Pak Alwie Achmad ingin mendengarkan laporan delegasi GEMA KAUR ke Manna yaitu saudara Suparwan Zahari dan Syarnubisyarib
Kami laporkan apa adanya pertemuan dengan bupati gagal alasannnya tidak jelas.
Dengan ketua DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan kami langsung diterima oleh kapten Yusirwan di rumah kediaman beliau, beliau menyatakan apresiasi atas gagasan rakyat Kaur untuk jadi Kabupaten Kaur dan saya akan mengajak anggota DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan untuk menindak lanjuti usul Kabupaten Kaur yang disampaikan oleh delegasinya kepada DPRD, dan usul ini resmi saya terima
Selanjutnya saudara Suparwan Zahari tidak kembali ke Bintuhan dia langsung ke Bengkulu untuk menyerahkan usul yang kedua kalinya ini, kepada gubernur bapak Ali Amin.SH dan ketua DPRD Provinsi Bengkulu. Usul yang pertama diantarkan oleh bapak Tajab marzuki demikian penjelasan saya atas pertanyaan peserta sidang bapak Alwie Achmad (Habib Alwie).
Pada tanggal 13 agustus 1972 saya memimpin demonstrasi rakyat Kaur yang ditujukan pada bupati Syah Djohan yang sedang berkunjung ke Bintuhan bersama rombongannya. Demonstrasi dianggap anarkis dan pecah, dan ujung-ujungnya saya ditangkap polisi dan ditahan dikantor polisi Bintuhan.
Apa alasan rakyat Kaur demonstrasi tanggal 13 agustus 1972
Melalui bapak Tajab marzuki ketika diutus oleh PMRK untuk menyampaikan usul pembentukan Kabupaten Kaur memisahkan diri dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Ada beberapa oknum suruhan penjabat Bengkulu Selatan mengatakan tidak ada rakyat Kaur berjuang lagi, jadi Kabupaten itu kadang-kadang dan hanya kehendak beberapa gelintir orang Kaur saja.
Nama kebanggan yaitu KAUR dihilangkan dari bumi Kaur dengan mengubah nama-nama kecamatan seperti :
Kecamatan Kaur utara dihilangkan nama Kaur di ganti dengan nama kecamatan Padang Guci
Kecamatan Kaur tengah nama Kaurnya dibuang menjadi kecamatan Muara Sahung
Kecamatan Kaur Selatan diganti dengan nama kecamatan Bintuhan
Dalam keputusan bupati Syah Djohan ini nama Kaur kebanggaan kita di kubur habis-habis dalam upaya mencegah perjuangan rakyat Kaur untuk memperbaiki nasib rakyatnya agar tak cerai berai.
Aspirasi demonstrasi rakyat Kaur berhasil tersalurkan dan didengar langsung oleh bupati Bengkulu Selatan yakni :
Kembalikan nama kecamatan oleh EX kewedanaan Kaur kedalam nama semula, kami semua tidak terima nama Kaur dihilangkan dari bumi Kaur
Kemana dana hasil pungutan harga kartu penduduk yang kami setor pada camat Kaur Selatan
Kemana dana hasil pungutan dari jasa gudang yang dipungut melalui para pedagang Kaur
Data II Kabupaten Kaur perjuangan kami dan kapasitas semua rakyat Kaur, tidak ada pilian kecuali daerah tk II Kabupaten Kaur
Inilah tiga pokok terkuat demonstrasi rakyat Kaur yang dipelajari tokoh dan Generasi muda Kaur tanggal 13 agustus 1971 saat kunjungan bupati Bengkulu Selatan ke Bintuhan.
Dan selanjutnya setelah demonstrasi dan saya keluar dari tahanan, saya kembali belajar dengan baik melalui pembelaan tokoh Kaur yakni pak Alwie Achmad, bapak Tajab Marzuki tokoh ketua Partai serikat islam (PSII) asal muara kinal, bapak KH Zahari Said, Hi Arami Saleh berupaya menemui berbagai pihak bupati, camat Kaur Selatan (Burhanudin) pesirah Ilyas dan kepala polisi di Bintuhan. Saya tidak jadi dikeluarkan dari sekolah (SMA KAUR) dan di keluarkan dari tahanan polisi Bintuhan. Selanjutnya seiring waktu berjalan tibalah saat ujian negera tahun 1973, karena SMA KAUR pimpinan Drs. Sofyan Sori swasta dan ujian negara harus di SMA negeri Manna, ketika menghadapi ujian beberapa pertanyaan tidak bisa saya jawab karena sewaktu sekolah banyak tersita organisasi-oeganisasi generasi muda Kaur kebetulan saya dipercaya sebagai ketua umum, sekretaris itu saudara Tumbang sardawa (alm). Saya memprediksi saya tidak lulus ujian saya tersebut. Selanjutnya keadaan ini saya kabarkan pada pak uncu Habib Alwie pada saat itu sedang di Bengkulu. Mendengar laporan saya tersebut pak uncu Habib Alwie mengambil langkah cepat, kalau tidak ditolong Syarnubi Syarif ini tentu tidak lulus, pak uncu Habib langsung menelpon Najamuddin Zahril: tolong bagaimana caranya supaya Syarnubi Syarif lulus. Kakanda Najamuddi langsung bergerak menemui kepala sekolah SMA negeri Manna yakni bapak Muhsin Raul,BA. Pak Muhsin Raul akan coba-coba berusaha dan cari langkah agar Syarnubi Syarif lulus. Sekitar tanggal …… tahun 1973 pada jam 9.00 wib aku ditelepon pak uncu Habib dari Palembang: Syarnubi, tenang mudah-mudahan lulus. Menurut pak uncu Habib Alwie: teman-temanmu mahasiswa di Jakarta ikut berjuang dan menelpon para tokoh Kaur terutama ketua PWK Jakarta bapak H.Hasbullah Usman, yang akhirnya juga menelpon pak uncu Habib agar dapat menyelamatkan Syarnubi Syarif, agar tidak gagal dalam ujian SMA tersebut. Berkat Ridho Allah dan pertolongan tokoh-tokoh Kaur yang telah saya sebutkan di atas Allhamdulillah aku lulus.
Lanjut cerita dalam kisah ini saya telah lulus, yang ujian SMA KAUR saat itu berjumlah 8 orang yang berhasil lulus ada 4 orang yaitu saya sendiri, Ade nilawati (Kemeo Anak Kelapa), Japri Masi, Awan Basri. Dari keempat yang lulus tersebut Syarnubi Syarif mendapat nilai tertinggi diantara orang 4 tersebut, pada saat perpisahan saudari nilawati sedikit protes sambil tertawa “kangau ini ja’ang sekul tapi dapat nilainye ngalahkan kami tige (Syarnubiini jarang sekolah katanya hanya mengurus organisasi dan demo, tapi nilainya paling tinggi)”. Aku sedikit menjawab “entah wuii aku de tahu (saya juga tidak tau), maksudku saya juga tidak tau” .
Setelah menerima ijazah lulus aku semakin bingung, kawan-kawanku semua sudah ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan/kuliah. Saya mau mengikuti jejak mereka orang tua tidak ada modal/uang, hampir 3 bulan saya mengalami hari yang sulit. Jika bertahan di Bintuhan kondisi sudah tidak memungkinkan karena polisi, aparat kecamatan, dan pesirah telah memusuhi saya dan mereka menganggap saya sebagai PKI dan harus dijauhi dan diamati semua langkah dan gerak-gerikku di Bintuhan. Karena memang saat meledak


Tidak ada komentar:
Posting Komentar