Sekapur Sirih

Malah singgah kudai adik Sanak........ manjaui kudai kami di Blog Persatuan Warga Kaur (PWK) Palembang..... disinilah jalan kite bebagi ce'rite, saling bebagi informasi, baik ce'rite di Kaur juge ce'rite dijalan kite tinggal mak kini.......Kritik, saran dan masukan untuk helau nye Blog ini kami tunggu nihan, juge kalu ade seguk'an artikel / tulisan serta foto yang ade hubungan nye dengan Kau'r bulih lah diki 'rimkan kesini......Mudah-mudahan saje blog ini dapat menyatukan kite warga Kaur di'rantau dengan adik sanak di dusun laman.....................

Sabtu, 15 April 2017

Kaur Harus Bersih dari Prostitusi, Warem Segera Ditertibkan

IRUL/Bengkulu Ekspress RAPAT: Bupati Kaur bersama dinas terkait, tokoh masyarakat dan agama saat menggelar rapat terkait permasalahan penyakit masyarakat, Rabu (11/4/2017).
IRUL/Bengkulu Ekspress RAPAT: Bupati Kaur bersama dinas terkait, tokoh masyarakat dan agama saat menggelar rapat terkait permasalahan penyakit masyarakat, Rabu (11/4/2017).
Apr 13, 2017 @ 19:00
BINTUHAN, Bengkulu Ekspress – Maraknya warung remang-remang (Warem) di sekitar Desa Sulawangi Kecamatan Tanjung Kemuning, dan di pelosok-pelosok desa di Kabupaten Kaur, meresahkan warga.   Hal ini membuat Bupati Kaur Gusril Fauzi SSos menginstruksikan Satuan Polisi Pamong Praja membongkar segera Warem yang ada di Kabupaten Kaur, dan diduga menjadi tempat prostitusi terselubung.
“Sesuai dengan hasil rapat kita, di sini kita nanti akan membersihkan warung remang-remang dan tempat maksiat yang ada di Kaur ini,” kata bupati saat memimpin rapat tentang penyakit masyarakat bersama dinas terkait di aula lantai III Pemda Kaur, kemarin (12/4/2017).
Dikatakan bupati, ia akan bertekad membersihkan Kabupaten Kaur dari praktik prostitusi atau tempat maksiat yang selalu menjadi keluhan masyarakat setempat. Sebab bupati meyakini, semua penganut agama tidak senang jika ada tempat maksiat yang tumbuh kembang di Kaur.  Untuk itulah ia bersama pihak terkait dengan tegas memerintahkan jajajarannya untuk tidak memberi toleransi terhadap penyakit masyarakat di Kaur ini.
“Saya sudah perintahkan Satpol PP agar menertibkan tempat yang menjadi penyakit masyarakat. Di sini kita minta dukungan dari Polres Kaur dalam memberantas segala prostitusi di Kaur ini,” terangnya.
Dikatakan bupati, dengan maraknya warung remang menyediakan Miras (minuman keras) berpotensi dalam tingkat kriminal dan Narkoba.  Pasalnya setiap telah terkontaminasi miras, maka orang tersebut akan kehilangan akal pikiran sehat. Untuk itulah pihaknya bertekad membersihkan Kaur dari segala macam penyakit masyarakat.
“Kalau sudah mabuk pasti pikirannya bisa macam-macam, bahkan buat kejahatan, apalagi sebentar lagi ini mau bulan puasa, dan semuanya harus ditertibkan,” tegas bupati.
Kepala Satpol PP dan Damkar Kaur, Zailan SPd menegaskan, pihaknya dalam waktu dekat ini akan segera turun langsung untuk membersihkan Kaur dari praktik prostitusi. Pengawasan diperkat untuk tempat-tempat yang rawan dijadikan praktik prostitusi seperti tersedianya warem. Sebab sebelum memasuki bulan puasa pihaknya optimis jika warung remang-remang di desa Sulawangi itu sudah tidak ada lgi.
“Kita minta kepada pemilik warung yang ilegal itu untuk membongkar sendiri, karena nanti kita akan bongkar, untuk waktu pernertibannya nanti akan kita kabari,” ujarnya.
Sementara itu, Wakapolres Kaur Kompol. Afrizal SSos yang hadir dalam rapat tersebut, ia mengaku jika pihaknya siap membantu Satpol PP untuk menertibkan Warem yang ada di Kaur ini. Sebab ia menilai munculnya wanita penghibur diwarung remang-remang dengan pakaian seksi sangat berpengaruh negatif terhadap warga sekitar terutama wanita dan anak-anak melintas disekitar warung tersebut.
“Kita siap membantu pemda untuk menertibkan Pekat ini, karena dengan adanya warem ini bisa memicu tindak krimnalitas di Kaur ini, apalgi warem itu menyediakan wanita penghibur,” jelasnya. (618)

Sumber:http://bengkuluekspress.com/

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India